Workshop GLITERJAK T2 Dorong Deteksi Dini Kebutuhan Anak
JAKARTA – Dokter dan Konsultan Anak Berkebutuhan Khusus, Dr. dr. Julita Lea Lestari, MBA, ACAS, CAPT, SAP-K, CH., CHt., membawakan materi “How to Become an Impactful Teacher” dalam Workshop dan Pengembangan Guru GLITERJAK T2 di SMAN 58 Jakarta, Selasa (22/9/2026).
Kegiatan yang diikuti sekitar 50 guru sekolah dasar (SD) dari wilayah Jakarta Timur 2 tersebut mengangkat tema “Deteksi Dini dengan Empati: Peran Guru SD dalam Mengenali Karakteristik dan Kebutuhan Khusus Anak pada Masa Awal Sekolah Dasar”.
Dalam materinya, Julita menekankan bahwa guru perlu memahami karakteristik, kemampuan, tantangan, dan kebutuhan anak sebelum menentukan strategi pembelajaran. Menurutnya, guru yang berdampak tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga mampu memberikan dukungan sesuai kondisi setiap anak.
Ia memperkenalkan kerangka 5M, yakni Masalahnya Apa, Muncul di Mana, Melakukan Apa, Mampunya Apa, dan Membutuhkan Apa. Pendekatan tersebut membantu guru melakukan pengamatan secara objektif tanpa terburu-buru memberikan label terhadap perilaku anak.
Julita juga menjelaskan penggunaan tiga formulir untuk mendukung deteksi dini dan perencanaan pembelajaran. Form 1 digunakan untuk mengenali kebutuhan dan menyusun profil belajar anak, Form 2 untuk menyusun Program Pembelajaran Individual, sedangkan Form 3 membantu menganalisis perilaku tertentu dan merancang dukungan yang sesuai.
Peserta kemudian mengikuti studi kasus dan praktik pengisian formulir melalui pengamatan video, diskusi, serta pendampingan narasumber. Kegiatan ini turut melibatkan RR. Baiduri NW, S.Pd., M.Si., CP, Ht, CP.NLP., dan Yuliana Jamal, S.Pd., Gr., M.Si., CH., CHt., yang memberikan perspektif dan pendampingan terkait kebutuhan anak di lingkungan sekolah.
Julita menegaskan bahwa deteksi dini bukan berarti guru menetapkan diagnosis, melainkan mengamati, mendokumentasikan, dan memahami kebutuhan anak sebagai dasar pemberian dukungan maupun rujukan kepada tenaga profesional jika diperlukan.
Melalui workshop tersebut, para guru diharapkan dapat menerapkan pendekatan pembelajaran yang lebih empatik dan sesuai dengan karakteristik anak, sehingga mampu menciptakan lingkungan belajar yang mendukung perkembangan setiap peserta didik.