Advertisement
Advertisement
Foto 1 / 3
Perbesar
img-1
Anggota Tim Laskar Selasik dari Universitas Gadjah Mada memperlihatkan hasil tangkapan udang usai mengikuti nyuluh, aktivitas mencari udang pada malam hari dengan bantuan lampu senter, bersama warga Desa Terong, Kabupaten Belitung.
Foto 2 / 3
Perbesar
img-2
Anggota Tim KATALIS Universitas Indonesia mendampingi anak-anak Desa Wisata Kakaskasen Dua, Kota Tomohon, dalam program pelatihan bahasa Inggris pada Genera-Z Berbakti 2026.
Foto 3 / 3
Perbesar
img-3
Tim Amerta Pertiwi (Universitas Airlangga) bergotong royong merekonstruksi rumah bibit di Desa Wisata Patakbanteng, Wonosobo, sebagai bagian dari perjalanan Genera-Z Berbakti 2026 yang membuktikan bahwa rencana terbaik pun perlu beradaptasi dengan suara masyarakat.
thumb-img
thumb-img
thumb-img
Advertisement

Dari Gagasan Turun ke Desa: Suka Duka Pengabdian Mahasiswa di Genera-Z Berbakti 2026

Selasa 25 Agustus 2026 20:18 WIB
A
A
A

Anggota Tim Laskar Selasik dari Universitas Gadjah Mada memperlihatkan hasil tangkapan udang usai mengikuti nyuluh, aktivitas mencari udang pada malam hari dengan bantuan lampu senter, bersama warga Desa Terong, Kabupaten Belitung. Pengalaman turun langsung pada dini hari ini menjadi bagian dari riset Tim Laskar Selasik untuk program Terong Xplore dalam Genera-Z Berbakti 2026. 

 

Gagasan yang dituangkan dalam proposal belum tentu berjalan sesuai rencana ketika diterapkan di lapangan. Hal itu dirasakan empat tim finalis Genera-Z Berbakti 2026 yang menjalankan program di desa wisata binaan Bakti BCA.

 

Keempat tim, yakni Laskar Selasik dari Universitas Gadjah Mada, Tim Pelita dari Universitas Padjadjaran, Tim Amerta Pertiwi dari Universitas Airlangga, dan Tim KATALIS dari Universitas Indonesia, menghadapi berbagai tantangan. Selain menjalankan program, mereka belajar bekerja dalam tim, beradaptasi, mendengarkan masyarakat, dan mengambil keputusan saat menghadapi situasi tak terduga.

 

Tim Pelita UNPAD menghadapi kendala ketika sebagian besar maggot yang dibawa untuk program pengolahan sampah organik tidak bertahan selama perjalanan. Mereka pun segera mencari penjual maggot di sekitar desa dan menggantinya dengan yang baru. Pengalaman ini mengajarkan pentingnya kemampuan beradaptasi dan mengambil keputusan cepat.

 

Tim KATALIS UI menghadapi tantangan dalam membangun kekompakan tim sekaligus menjalankan program pembelajaran bahasa Inggris bagi anak-anak dan pemandu wisata di Desa Wisata Kakaskasen Dua. Antusiasme warga membuat mahasiswa menyadari bahwa program pengabdian juga merupakan proses belajar dua arah.

 

Sementara itu, Tim Amerta Pertiwi UNAIR harus mengubah rencana revitalisasi rumah bibit setelah berdiskusi dengan warga. Dari revitalisasi, program berkembang menjadi rekonstruksi total. Perubahan tersebut mengajarkan mahasiswa pentingnya melibatkan masyarakat dalam menentukan kebutuhan dan solusi.

 

Tim Laskar Selasik UGM menggali potensi budaya Desa Terong melalui pengalaman langsung. Salah satunya dengan mengikuti aktivitas nyuluh pada dini hari untuk mencari udang bersama warga. Pengalaman tersebut memberi mereka perspektif baru mengenai kehidupan, kebiasaan, dan potensi desa.

 

EVP Corporate Communications & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn mengatakan pengalaman para finalis menunjukkan semangat generasi muda dalam menghadapi tantangan dan mencari solusi bersama masyarakat.

 

Satu bulan berada di desa menjadi ruang belajar bagi keempat tim untuk menguji gagasan sekaligus memahami kebutuhan masyarakat secara langsung. Perjalanan mereka di desa binaan Bakti BCA pun masih terus berlanjut, bersama masyarakat yang menjadi bagian penting dalam setiap prosesnya.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Foto Lainnya