Advertisement
Advertisement
Foto 1 / 4
Perbesar
img-1
Forum ini mempertemukan para pakar kesehatan anak dari berbagai disiplin dan negara untuk membahas tantangan kesehatan anak berbasis bukti ilmiah.
Foto 2 / 4
Perbesar
img-2
Forum ini mempertemukan para pakar kesehatan anak dari berbagai disiplin dan negara untuk membahas tantangan kesehatan anak berbasis bukti ilmiah.
Foto 3 / 4
Perbesar
img-3
Forum ini mempertemukan para pakar kesehatan anak dari berbagai disiplin dan negara untuk membahas tantangan kesehatan anak berbasis bukti ilmiah.
Foto 4 / 4
Perbesar
img-4
Forum ini mempertemukan para pakar kesehatan anak dari berbagai disiplin dan negara untuk membahas tantangan kesehatan anak berbasis bukti ilmiah.
thumb-img
thumb-img
thumb-img
thumb-img
Advertisement

Pediatric Summit 2026 Dorong Penguatan Kesehatan Anak Berbasis Sains

Minggu 09 Agustus 2026 23:43 WIB
A
A
A

JAKARTAKesehatan anak, khususnya pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), menjadi perhatian dalam Pediatric Science & Health Summit 2026 bertajuk “Advancing Science for Clinical Excellence” yang digelar PP IDAI dan IDAI Cabang Bali pada 7 - 9 Agustus 2026 di Nusa Dua, Bali. Forum ini mempertemukan para pakar kesehatan anak dari berbagai disiplin dan negara untuk membahas tantangan kesehatan anak berbasis bukti ilmiah.

 

Kepala BPOM Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., MD, Ph.D., yang hadir sebagai keynote speaker, menekankan pentingnya investasi pada kesehatan otak dan perkembangan kognitif sejak 1.000 HPK. Menurutnya, kecukupan nutrisi dan kesehatan saluran cerna berperan penting dalam perkembangan otak melalui mekanisme neuroplastisitas dan hubungan gut-brain axis.

 

Ketua Umum PP IDAI Dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp.Kardio(K), mengatakan kemajuan ilmu pengetahuan harus diterjemahkan menjadi pelayanan kesehatan yang lebih baik bagi anak. Sejumlah isu yang dibahas meliputi kesehatan saluran cerna, precision biotics, alergi protein susu sapi, gangguan pertumbuhan, serta defisiensi zat besi dan anemia.

 

Para ahli menyoroti pentingnya keseimbangan mikrobiota usus dalam mendukung pencernaan, sistem imun, dan tumbuh kembang anak. Asupan biotik seperti prebiotik, probiotik, dan sinbiotik dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan saluran cerna. Selain itu, penanganan alergi protein susu sapi perlu dilakukan melalui diagnosis dini dan pemilihan nutrisi sesuai tingkat keparahan serta rekomendasi berbasis bukti.

 

Dalam penanganan gangguan pertumbuhan dan stunting, ahli menekankan pentingnya asupan makanan bergizi dengan keseimbangan protein dan energi yang tepat, termasuk protein hewani. Sementara itu, kekurangan zat besi dan anemia defisiensi besi perlu mendapat perhatian karena dapat berdampak pada perkembangan sistem saraf, fungsi kognitif, konsentrasi, dan daya tahan tubuh anak.

 

Pediatric Science & Health Summit 2026 menegaskan bahwa peningkatan kesehatan anak membutuhkan pendekatan terpadu berbasis bukti, mulai dari kesehatan saluran cerna, penanganan alergi, pemenuhan nutrisi, hingga pencegahan defisiensi zat besi dan gangguan pertumbuhan. Kolaborasi tenaga kesehatan, peneliti, dan berbagai pihak dinilai penting untuk mendukung tumbuh kembang optimal anak Indonesia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Foto Lainnya