Advertisement
Advertisement
Foto 1 / 3
Perbesar
img-1
Pendidikan profesi menjadi tahapan penting bagi lulusan Sarjana Arsitektur sebelum memperoleh Surat Tanda Registrasi Arsitek (STRA) dan berpraktik secara mandiri.
Foto 2 / 3
Perbesar
img-2
Pendidikan profesi menjadi tahapan penting bagi lulusan Sarjana Arsitektur sebelum memperoleh Surat Tanda Registrasi Arsitek (STRA) dan berpraktik secara mandiri.
Foto 3 / 3
Perbesar
img-3
Pendidikan profesi menjadi tahapan penting bagi lulusan Sarjana Arsitektur sebelum memperoleh Surat Tanda Registrasi Arsitek (STRA) dan berpraktik secara mandiri.
thumb-img
thumb-img
thumb-img
Advertisement

Raih Akreditasi Pertama BAN-PT, PPAr UPH Perkuat Pendidikan Arsitek Profesional

Sabtu 08 Agustus 2026 23:47 WIB
A
A
A

JAKARTA Program Pendidikan Profesi Arsitek (PPAr) Universitas Pelita Harapan (UPH) meraih status Terakreditasi Pertama dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) melalui SK Nomor 436/SK/BAN-PT/Ak.P/2.0/Profesi/VII/2026. Akreditasi tersebut berlaku mulai 21 Juli 2026 hingga 21 Juli 2028. Pencapaian ini memperkuat komitmen UPH menghadirkan pendidikan profesi arsitek yang memenuhi standar nasional dan internasional.

 

Ketua Program Studi PPAr UPH, Ar. Andreas Dwiputro Handoyo, S.T., M.T., mengatakan program tersebut diselenggarakan melalui skema pendidikan 4+1, yakni empat tahun pendidikan sarjana yang dilanjutkan satu tahun pendidikan profesi. Pendidikan profesi menjadi tahapan penting bagi lulusan Sarjana Arsitektur sebelum memperoleh Surat Tanda Registrasi Arsitek (STRA) dan berpraktik secara mandiri.

 

PPAr UPH memiliki kurikulum selama dua semester atau 36 SKS yang mengacu pada Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI), standar kompetensi Ikatan Arsitek Indonesia (IAI), kompetensi Union Internationale des Architectes (UIA), serta Student Performance Criteria dari Korean Architectural Accrediting Board (KAAB). Mahasiswa tidak hanya dibekali kemampuan merancang bangunan, tetapi juga komunikasi, kepemimpinan, kerja sama tim, etika profesi, regulasi bangunan, dan keselamatan.

 

Proses pembelajaran didukung dosen yang merupakan akademisi sekaligus praktisi ber-STRA serta fasilitas berstandar industri, seperti laboratorium kayu dan metal, laboratorium pemodelan digital dengan teknologi 3D printing, CNC cutting dan laser cutting, serta laboratorium komputer dengan perangkat lunak berlisensi. Pendampingan dilakukan secara intensif dengan rasio satu dosen untuk enam mahasiswa agar pengalaman belajar lebih dekat dengan praktik profesional.

 

Andreas mengatakan PPAr UPH juga mendorong mahasiswa menghasilkan portofolio profesional melalui pembelajaran berbasis praktik dan teknologi digital. “Kami ingin menghasilkan lulusan yang tidak hanya unggul secara teknis, tetapi juga memiliki kemampuan digital, memahami regulasi, mampu memimpin tim, serta siap menghadapi tantangan profesi arsitek di tingkat nasional maupun global,” ujarnya.

 

Ke depan, PPAr UPH akan memperkuat kolaborasi dengan industri, pemerintah, organisasi profesi, dan institusi internasional serta mengembangkan fasilitas pembelajaran. Melalui pendidikan berbasis praktik dan pengembangan kompetensi yang relevan dengan kebutuhan industri, UPH berkomitmen mencetak arsitek profesional yang adaptif, kompeten, dan berdaya saing global.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Foto Lainnya