Smart Farming Mahasiswa UPH Bantu Budidaya Jamur dan Tanaman Obat

Arif Julianto/okezone, Jurnalis
Selasa 06 Oktober 2026 22:46 WIB

JAKARTA - Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) S1 Farmasi Universitas Pelita Harapan (UPH) mengembangkan teknologi smart farming untuk membantu Kelompok Wanita Tani (KWT) Cempaka Batan Indah di Kelurahan Kademangan, Tangerang Selatan, dalam budidaya jamur dan tanaman obat keluarga (TOGA).

 

Program tersebut diwujudkan melalui proposal “Implementasi Teknologi Smart Farming melalui Pemanfaatan Air Limbah Daun untuk Meningkatkan Efisiensi Tenaga Kerja Kelompok Wanita Tani Kelurahan Kademangan” yang mendapat hibah Rp22,5 juta dari Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) 2026 Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. UPH turut memberikan tambahan pendanaan Rp6,5 juta.

 

Program berawal dari hasil survei mahasiswa pada Maret 2026 yang menemukan proses penyiraman tanaman dan perawatan kumbung jamur masih dilakukan secara manual. Kondisi tersebut cukup berat bagi sekitar 26 anggota KWT yang mayoritas berusia 58–70 tahun dan membuat kelompok perlu mengeluarkan biaya tambahan untuk tenaga kerja.

 

Ketua Tim PPK Ormawa HMPS S1 Farmasi UPH Djona Nababan mengatakan teknologi diterapkan untuk membantu mengurangi pekerjaan manual sekaligus menjaga kondisi lingkungan budidaya.

 

Pada area TOGA, sistem drip irrigation menyalurkan air berdasarkan pembacaan sensor kelembapan tanah. Sementara pada kumbung jamur, sistem misting dilengkapi sensor suhu dan kelembapan untuk menjaga kondisi lingkungan. Data sensor dapat dipantau melalui aplikasi pada telepon pintar.

 

Selain otomatisasi penyiraman, mahasiswa memanfaatkan daun kering yang sebelumnya menjadi limbah untuk diolah menjadi pupuk organik cair (POC) dan kompos. Pengembangan program melibatkan 13 mahasiswa dari S1 Farmasi, Teknik Elektro, dan Teknik Industri yang masing-masing berkontribusi sesuai bidang keilmuan.

 

Program tersebut menargetkan waktu penyiraman dan pemeliharaan berkurang dari sekitar satu hingga dua jam menjadi 15 menit per hari. Sistem juga ditargetkan menjaga kumbung pada suhu 25–28 derajat Celsius dan kelembapan 70–80 persen, serta mengolah lebih dari 70 persen limbah daun menjadi pupuk dan kompos.

 

Ketua KWT Cempaka Batan Indah Candrawati mengatakan penerapan sistem misting membantu menjaga kondisi kumbung sehingga area yang sebelumnya belum optimal mulai menghasilkan jamur. Menurut dia, masa panen yang sebelumnya sekitar empat bulan kini dapat berlangsung hingga enam bulan.

 

Dosen pendamping Feronia Reni Cyrena Santoso mengatakan program tersebut menjadi sarana bagi mahasiswa untuk menerapkan ilmu perkuliahan sekaligus mengembangkan solusi yang dapat digunakan masyarakat. Program memiliki roadmap hingga 2028 dengan target KWT mampu mengoperasikan dan memelihara sistem secara mandiri.

JAKARTA - Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) S1 Farmasi Universitas Pelita Harapan (UPH) mengembangkan teknologi smart farming untuk membantu Kelompok Wanita Tani (KWT) Cempaka Batan Indah di Kelurahan Kademangan, Tangerang Selatan, dalam budidaya jamur dan tanaman obat keluarga (TOGA).

 

Program tersebut diwujudkan melalui proposal “Implementasi Teknologi Smart Farming melalui Pemanfaatan Air Limbah Daun untuk Meningkatkan Efisiensi Tenaga Kerja Kelompok Wanita Tani Kelurahan Kademangan” yang mendapat hibah Rp22,5 juta dari Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) 2026 Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. UPH turut memberikan tambahan pendanaan Rp6,5 juta.

 

Program berawal dari hasil survei mahasiswa pada Maret 2026 yang menemukan proses penyiraman tanaman dan perawatan kumbung jamur masih dilakukan secara manual. Kondisi tersebut cukup berat bagi sekitar 26 anggota KWT yang mayoritas berusia 58–70 tahun dan membuat kelompok perlu mengeluarkan biaya tambahan untuk tenaga kerja.

 

Ketua Tim PPK Ormawa HMPS S1 Farmasi UPH Djona Nababan mengatakan teknologi diterapkan untuk membantu mengurangi pekerjaan manual sekaligus menjaga kondisi lingkungan budidaya.

 

Pada area TOGA, sistem drip irrigation menyalurkan air berdasarkan pembacaan sensor kelembapan tanah. Sementara pada kumbung jamur, sistem misting dilengkapi sensor suhu dan kelembapan untuk menjaga kondisi lingkungan. Data sensor dapat dipantau melalui aplikasi pada telepon pintar.

 

Selain otomatisasi penyiraman, mahasiswa memanfaatkan daun kering yang sebelumnya menjadi limbah untuk diolah menjadi pupuk organik cair (POC) dan kompos. Pengembangan program melibatkan 13 mahasiswa dari S1 Farmasi, Teknik Elektro, dan Teknik Industri yang masing-masing berkontribusi sesuai bidang keilmuan.

 

Program tersebut menargetkan waktu penyiraman dan pemeliharaan berkurang dari sekitar satu hingga dua jam menjadi 15 menit per hari. Sistem juga ditargetkan menjaga kumbung pada suhu 25–28 derajat Celsius dan kelembapan 70–80 persen, serta mengolah lebih dari 70 persen limbah daun menjadi pupuk dan kompos.

 

Ketua KWT Cempaka Batan Indah Candrawati mengatakan penerapan sistem misting membantu menjaga kondisi kumbung sehingga area yang sebelumnya belum optimal mulai menghasilkan jamur. Menurut dia, masa panen yang sebelumnya sekitar empat bulan kini dapat berlangsung hingga enam bulan.

 

Dosen pendamping Feronia Reni Cyrena Santoso mengatakan program tersebut menjadi sarana bagi mahasiswa untuk menerapkan ilmu perkuliahan sekaligus mengembangkan solusi yang dapat digunakan masyarakat. Program memiliki roadmap hingga 2028 dengan target KWT mampu mengoperasikan dan memelihara sistem secara mandiri.

Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Telusuri berita Multimedia lainnya