JAKARTA - Pintu kayu tua terbuka perlahan, lalu ruang temaram bernuansa kolonial menyambut hangat. Pilar-pilar biru menjulang hingga langit-langit, dipeluk ukiran naga berukuran raksasa yang seolah menjaga setiap sudut ruangan. Di panggung, penyanyi melantunkan lagu-lagu jazz dan downtempo diiringi denting piano merah dan tiupan trompet. Cahaya remang-remang memantul pada lantai batu, sementara para tamu menikmati pertunjukan sambil sesekali berbincang intim. Malam akhir pekan lalu De Tiger mulai memperkenalkan dirinya. Bukan sekadar bar, melainkan ruang yang membangkitkan kembali serpihan Batavia lama.
Bar yang baru dibuka di House of Tugu Old Town Jakarta, kawasan Kali Besar Barat, itu berdiri di atas lokasi yang menyimpan kisah nyata lebih dari seabad silam. Tempat bersantai dengan konsep far east speakeasy bar tersebut dahulu menjadi persinggahan seekor harimau Jawa bermata satu bernama Merem setelah dibebaskan dari nasib sebagai tontonan. Jejak itulah yang kini diterjemahkan menjadi pengalaman menikmati malam melalui sejarah, seni, musik, hingga racikan koktail.
Co-Owner Tugu Hotels & Restaurants, Lucienne Anhar, mengatakan, kisah Merem telah diwariskan turun-temurun di keluarganya. Sejak kecil, cerita itu membentuk ketertarikan ayahnya, Anhar Setjadibrata, pada Batavia lama beserta kehidupan maritimnya yang kosmopolitan. Pelabuhan Sunda Kelapa pernah mempertemukan pedagang Gujarat, Tiongkok, Arab, Nusantara hingga Eropa dalam satu ruang yang sama. Pertemuan itu melahirkan pertukaran budaya, musik, kuliner, hingga legenda yang perlahan memudar dari ingatan kota.
"De Tiger lahir dari kisah nyata keluarga kami. Kami ingin menghidupkan kembali romantisme, misteri, dan semangat petualangan Batavia lama," tuturnya.
Cerita Merem menjadi benang merah seluruh ruang. Harimau Jawa itu ditangkap di sekitar perkebunan kopi Kawisari, Blitar, pada awal abad ke-20. Mendengar kabar tersebut, Raden Adjeng Kasinem, istri pertama saudagar Oei Tiong Ham, meminta asistennya membeli kebebasan Merem dengan seratus karung kopi. Setelah mendapat perawatan dokter hewan di Batavia, Merem menghabiskan sisa hidupnya di kediaman keluarga Oei Tiong Ham di Semarang. Simbol kebebasan itulah yang kini hidup kembali melalui nama dan identitas tempat ini.
Kisah sejarah itu terasa menyatu dengan interior bar. Di belakang meja bartender tergantung lukisan raksasa bertuliskan Borneo yang menggambarkan perburuan harimau pada 1920. Lampu gantung klasik memancarkan cahaya hangat ke meja bartender yang sibuk meracik minuman. Gerbang bertuliskan "Familie Oei Tiong Ham" menjadi penghubung menuju ruang lain yang dipenuhi koleksi antik. Hampir setiap dinding, tiang, hingga langit-langit menyimpan ukiran, patung, dan artefak yang membuat bangunan ini menyerupai museum hidup selain tempat menikmati malam.
Program minuman dibagi menjadi tiga babak, yakni The Journey of Merem, The Trader's Table, dan The Spice Market. Nama-nama seperti 100 Karung Kopi, Taman Merem, Gujarat, Hadrami, Siam, dan Nagasaki diambil dari peristiwa maupun jalur perdagangan yang pernah menghubungkan Nusantara dengan dunia. Konsep serupa juga diterapkan pada hidangan. Sajian pembuka seperti Saudagar's Platter menghadirkan kroket kepiting, bakwan jagung, dan sate lilit kakap sebagai tafsir modern pertemuan budaya di pelabuhan Sunda Kelapa.
Identitas ruang ini juga dibangun melalui musik yang berubah mengikuti hari. Jazz dan downtempo mengisi malam pertengahan pekan. Menjelang akhir pekan, iramanya bergeser menuju Afro House, Dark Disco, Tribal House, hingga Melodic House.
Semakin malam, penampilan jazz perlahan berganti dengan permainan disc jockey. Meja-meja tetap dipenuhi tamu yang bercakap-cakap. Sebagian menikmati hidangan, sebagian lain mengabadikan detail ruangan yang sarat cerita. Denting gelas sesekali beradu. Cahaya lampu yang redup membuat setiap sudut tetap hangat tanpa kehilangan kesan misterius.
Tidak banyak tempat yang menjadikan sejarah sebagai bagian utuh dari pengalaman pengunjung. Di sini, kisah tentang seekor harimau Jawa, bangunan kolonial, perdagangan rempah, dan kehidupan Batavia lama tidak berhenti sebagai pajangan. Semuanya hadir sebagai narasi yang mengajak tamu menelusuri kembali memori kota, satu ruang, satu alunan musik, dan satu kisah dalam satu malam.
JAKARTA - Pintu kayu tua terbuka perlahan, lalu ruang temaram bernuansa kolonial menyambut hangat. Pilar-pilar biru menjulang hingga langit-langit, dipeluk ukiran naga berukuran raksasa yang seolah menjaga setiap sudut ruangan. Di panggung, penyanyi melantunkan lagu-lagu jazz dan downtempo diiringi denting piano merah dan tiupan trompet. Cahaya remang-remang memantul pada lantai batu, sementara para tamu menikmati pertunjukan sambil sesekali berbincang intim. Malam akhir pekan lalu De Tiger mulai memperkenalkan dirinya. Bukan sekadar bar, melainkan ruang yang membangkitkan kembali serpihan Batavia lama.
Bar yang baru dibuka di House of Tugu Old Town Jakarta, kawasan Kali Besar Barat, itu berdiri di atas lokasi yang menyimpan kisah nyata lebih dari seabad silam. Tempat bersantai dengan konsep far east speakeasy bar tersebut dahulu menjadi persinggahan seekor harimau Jawa bermata satu bernama Merem setelah dibebaskan dari nasib sebagai tontonan. Jejak itulah yang kini diterjemahkan menjadi pengalaman menikmati malam melalui sejarah, seni, musik, hingga racikan koktail.
Co-Owner Tugu Hotels & Restaurants, Lucienne Anhar, mengatakan, kisah Merem telah diwariskan turun-temurun di keluarganya. Sejak kecil, cerita itu membentuk ketertarikan ayahnya, Anhar Setjadibrata, pada Batavia lama beserta kehidupan maritimnya yang kosmopolitan. Pelabuhan Sunda Kelapa pernah mempertemukan pedagang Gujarat, Tiongkok, Arab, Nusantara hingga Eropa dalam satu ruang yang sama. Pertemuan itu melahirkan pertukaran budaya, musik, kuliner, hingga legenda yang perlahan memudar dari ingatan kota.
"De Tiger lahir dari kisah nyata keluarga kami. Kami ingin menghidupkan kembali romantisme, misteri, dan semangat petualangan Batavia lama," tuturnya.
Cerita Merem menjadi benang merah seluruh ruang. Harimau Jawa itu ditangkap di sekitar perkebunan kopi Kawisari, Blitar, pada awal abad ke-20. Mendengar kabar tersebut, Raden Adjeng Kasinem, istri pertama saudagar Oei Tiong Ham, meminta asistennya membeli kebebasan Merem dengan seratus karung kopi. Setelah mendapat perawatan dokter hewan di Batavia, Merem menghabiskan sisa hidupnya di kediaman keluarga Oei Tiong Ham di Semarang. Simbol kebebasan itulah yang kini hidup kembali melalui nama dan identitas tempat ini.
Kisah sejarah itu terasa menyatu dengan interior bar. Di belakang meja bartender tergantung lukisan raksasa bertuliskan Borneo yang menggambarkan perburuan harimau pada 1920. Lampu gantung klasik memancarkan cahaya hangat ke meja bartender yang sibuk meracik minuman. Gerbang bertuliskan "Familie Oei Tiong Ham" menjadi penghubung menuju ruang lain yang dipenuhi koleksi antik. Hampir setiap dinding, tiang, hingga langit-langit menyimpan ukiran, patung, dan artefak yang membuat bangunan ini menyerupai museum hidup selain tempat menikmati malam.
Program minuman dibagi menjadi tiga babak, yakni The Journey of Merem, The Trader's Table, dan The Spice Market. Nama-nama seperti 100 Karung Kopi, Taman Merem, Gujarat, Hadrami, Siam, dan Nagasaki diambil dari peristiwa maupun jalur perdagangan yang pernah menghubungkan Nusantara dengan dunia. Konsep serupa juga diterapkan pada hidangan. Sajian pembuka seperti Saudagar's Platter menghadirkan kroket kepiting, bakwan jagung, dan sate lilit kakap sebagai tafsir modern pertemuan budaya di pelabuhan Sunda Kelapa.
Identitas ruang ini juga dibangun melalui musik yang berubah mengikuti hari. Jazz dan downtempo mengisi malam pertengahan pekan. Menjelang akhir pekan, iramanya bergeser menuju Afro House, Dark Disco, Tribal House, hingga Melodic House.
Semakin malam, penampilan jazz perlahan berganti dengan permainan disc jockey. Meja-meja tetap dipenuhi tamu yang bercakap-cakap. Sebagian menikmati hidangan, sebagian lain mengabadikan detail ruangan yang sarat cerita. Denting gelas sesekali beradu. Cahaya lampu yang redup membuat setiap sudut tetap hangat tanpa kehilangan kesan misterius.
Tidak banyak tempat yang menjadikan sejarah sebagai bagian utuh dari pengalaman pengunjung. Di sini, kisah tentang seekor harimau Jawa, bangunan kolonial, perdagangan rempah, dan kehidupan Batavia lama tidak berhenti sebagai pajangan. Semuanya hadir sebagai narasi yang mengajak tamu menelusuri kembali memori kota, satu ruang, satu alunan musik, dan satu kisah dalam satu malam.