Foto 1 / 5
Perbesar
img-1
Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Yusril Ihza Mahendra (tengah) menyampaikan keterangan pers di Kantor Kementerian Kumham Imipas di Jakarta, Selasa (3/11/2026).
Foto 2 / 5
Perbesar
img-2
Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Yusril Ihza Mahendra (tengah) menyampaikan keterangan pers di Kantor Kementerian Kumham Imipas di Jakarta, Selasa (3/11/2026).
Foto 3 / 5
Perbesar
img-3
Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Yusril Ihza Mahendra (tengah) menyampaikan keterangan pers di Kantor Kementerian Kumham Imipas di Jakarta, Selasa (3/11/2026).
Foto 4 / 5
Perbesar
img-4
Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Yusril Ihza Mahendra (tengah) menyampaikan keterangan pers di Kantor Kementerian Kumham Imipas di Jakarta, Selasa (3/11/2026).
Foto 5 / 5
Perbesar
img-5
Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Yusril Ihza Mahendra (tengah) menyampaikan keterangan pers di Kantor Kementerian Kumham Imipas di Jakarta, Selasa (3/11/2026).
thumb-img
thumb-img
thumb-img
thumb-img
thumb-img
Advertisement

Yusril Ungkap Dugaan Penyadapan Nomor Telepon Presiden Sejak 2025

Selasa 03 November 2026 22:43 WIB
A
A
A

JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Yusril Ihza Mahendra (tengah) menyampaikan keterangan pers di Kantor Kementerian Kumham Imipas di Jakarta, Selasa (3/11/2026).

 

Dalam keterangannya, Yusril mengungkap dugaan penyadapan terhadap nomor telepon Presiden Prabowo Subianto berlangsung sejak Januari 2025 hingga Oktober 2026. 

 

Sebelumnya, Bareskrim Polri telah menetapkan tiga tersangka berinisial LSP, ASN, dan EH. Penyadapan diduga dilakukan dengan memasukkan sejumlah nomor ke sistem LIMS tanpa verifikasi dan tanpa berkaitan dengan penegakan hukum.

 

Polri menyebut file hasil sadapan kemudian diperintahkan untuk dihapus pada Oktober 2026. Kasus tersebut dilaporkan pada 30 Oktober 2026 dan penyidik telah memeriksa 10 saksi serta tiga saksi ahli. 

 

Selain nomor Presiden, penyadapan diduga menyasar pejabat negara, tokoh politik, media, organisasi masyarakat, LSM, hingga pengusaha. Polisi turut menyita 11 telepon genggam, satu iPad, dan empat flashdisk sebagai barang bukti. 

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Foto Lainnya