JAKARTA -
Plt. Direktur Urusan Agama Islam Kementerian Agama Muchlis Muhammad Hanafi mengatakan, solarisasi masjid memadukan nilai keagamaan, teknologi energi bersih, dan partisipasi masyarakat. Kemenag juga akan mengoptimalkan jaringan sekitar 24.000 penyuluh agama Islam untuk menyebarluaskan edukasi energi bersih dan ekoteologi.
Berdasarkan pemetaan teknis NUUR+, masjid dan musala di Indonesia berpotensi menyumbang kapasitas PLTS sebesar 1 GW melalui pemasangan sistem energi surya dan baterai di lebih dari 400.000 rumah ibadah. Kapasitas tersebut diperkirakan menghasilkan 1.414 gigawatt-jam (GWh) listrik bersih per tahun, mengurangi emisi karbon hingga 1,1 juta ton per tahun, serta menghemat biaya listrik sekitar Rp47,7 triliun selama 25 tahun operasional.
Dewan Pembina MOSAIC M. Ali Yusuf menekankan bahwa solarisasi masjid tidak hanya berfokus pada pemasangan panel surya, tetapi juga edukasi energi bersih, keselamatan kelistrikan, pendanaan inklusif, tata kelola yang akuntabel, dan partisipasi masyarakat.
Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kementerian Agama Waryono Abdul Ghafur mengatakan, pendanaan menjadi salah satu tantangan utama. Karena itu, Kemenag telah menyurati Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) dan lembaga amil zakat agar turut mendukung transisi energi, termasuk melalui wakaf energi surya untuk masjid dan pesantren.
Ketua Yayasan Wakaf Energi sekaligus perwakilan NUUR+ Chairiman mengatakan, platform digital NUUR+ memungkinkan masyarakat memilih masjid penerima manfaat, berpartisipasi melalui wakaf dan sedekah daring, serta memantau pelaksanaan dan pelaporan program.
Peta jalan tersebut direncanakan dimulai pada 2027 melalui pemasangan PLTS di 300 masjid percontohan atau ekomasjid, sebelum diperluas secara bertahap ke tingkat regional dan nasional. Program ini melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Badan Wakaf Indonesia, dan Asosiasi Energi Surya Indonesia.
Sebelumnya, NUUR+ bersama MOSAIC, Wakaf Al-Azhar, Wakaf Salman, Bank Indonesia, dan Kementerian Agama telah menjalankan program percontohan PLTS atap berkapasitas 7.320 watt-peak (Wp) di Masjid Nurul Iman, Desa Babo, Aceh Tamiang, dengan pendanaan berbasis wakaf energi.
JAKARTA -
Plt. Direktur Urusan Agama Islam Kementerian Agama Muchlis Muhammad Hanafi mengatakan, solarisasi masjid memadukan nilai keagamaan, teknologi energi bersih, dan partisipasi masyarakat. Kemenag juga akan mengoptimalkan jaringan sekitar 24.000 penyuluh agama Islam untuk menyebarluaskan edukasi energi bersih dan ekoteologi.
Berdasarkan pemetaan teknis NUUR+, masjid dan musala di Indonesia berpotensi menyumbang kapasitas PLTS sebesar 1 GW melalui pemasangan sistem energi surya dan baterai di lebih dari 400.000 rumah ibadah. Kapasitas tersebut diperkirakan menghasilkan 1.414 gigawatt-jam (GWh) listrik bersih per tahun, mengurangi emisi karbon hingga 1,1 juta ton per tahun, serta menghemat biaya listrik sekitar Rp47,7 triliun selama 25 tahun operasional.
Dewan Pembina MOSAIC M. Ali Yusuf menekankan bahwa solarisasi masjid tidak hanya berfokus pada pemasangan panel surya, tetapi juga edukasi energi bersih, keselamatan kelistrikan, pendanaan inklusif, tata kelola yang akuntabel, dan partisipasi masyarakat.
Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kementerian Agama Waryono Abdul Ghafur mengatakan, pendanaan menjadi salah satu tantangan utama. Karena itu, Kemenag telah menyurati Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) dan lembaga amil zakat agar turut mendukung transisi energi, termasuk melalui wakaf energi surya untuk masjid dan pesantren.
Ketua Yayasan Wakaf Energi sekaligus perwakilan NUUR+ Chairiman mengatakan, platform digital NUUR+ memungkinkan masyarakat memilih masjid penerima manfaat, berpartisipasi melalui wakaf dan sedekah daring, serta memantau pelaksanaan dan pelaporan program.
Peta jalan tersebut direncanakan dimulai pada 2027 melalui pemasangan PLTS di 300 masjid percontohan atau ekomasjid, sebelum diperluas secara bertahap ke tingkat regional dan nasional. Program ini melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Badan Wakaf Indonesia, dan Asosiasi Energi Surya Indonesia.
Sebelumnya, NUUR+ bersama MOSAIC, Wakaf Al-Azhar, Wakaf Salman, Bank Indonesia, dan Kementerian Agama telah menjalankan program percontohan PLTS atap berkapasitas 7.320 watt-peak (Wp) di Masjid Nurul Iman, Desa Babo, Aceh Tamiang, dengan pendanaan berbasis wakaf energi.