JAKARTA -
Melalui program tersebut, mahasiswa mendorong pemanfaatan ikan lele secara lebih optimal, mulai dari daging, tulang, kulit, hingga bagian lain yang sebelumnya belum dimanfaatkan. Tulang dan kepala lele diolah menjadi cookies, kulit menjadi keripik, sementara bagian organik lainnya dimanfaatkan sebagai bahan pupuk.
Program LESTARI berhasil memperoleh hibah Rp24,8 juta melalui Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) 2026 dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. UPH juga memberikan dukungan pendanaan tambahan sebesar Rp10 juta.
Ketua Tim PPK Ormawa HMPS Teknologi Pangan UPH, Joanna Faleshia, mengatakan program tersebut berangkat dari potensi budidaya lele di Tigaraksa yang memiliki sekitar 600 kolam dan dikelola oleh 25 kelompok pembudidaya. Namun, pemanfaatan lele selama ini masih didominasi produk berbahan daging.
Melalui pendekatan zero waste, tim LESTARI berupaya mengolah bagian lele yang sebelumnya dianggap sebagai sisa produksi menjadi produk bernilai ekonomi. Tulang lele, misalnya, dikembangkan menjadi bahan cookies, sedangkan kulit lele diolah menjadi keripik.
Selain mengembangkan produk, program ini juga memberikan pendampingan kepada masyarakat dalam pengelolaan usaha, legalitas, branding, pemasaran digital, hingga efisiensi produksi. Kegiatan melibatkan 40 warga dari kelompok pembudidaya dan pengolah lele, PKK, Karang Taruna, serta pelaku UMKM.
Program tersebut turut melibatkan 16 mahasiswa dari tujuh program studi, yakni Teknologi Pangan, Manajemen, Teknik Industri, Teknik Elektro, Desain Komunikasi Visual, Teknik Sipil, dan Hukum.
Tim LESTARI menargetkan pemanfaatan hingga 90 persen bagian ikan lele, sekaligus menciptakan produk olahan baru dan meningkatkan nilai ekonomi masyarakat. Menurut Joanna, sebelum program berjalan, omzet masyarakat berkisar Rp700 ribu hingga Rp900 ribu per minggu. Setelah pengembangan produk dilakukan, omzet meningkat hingga sekitar Rp3,4 juta per minggu.
Dosen pembimbing program, Prof. Dr. Ir. Adolf J. N. Parhusip, M.Si., mengatakan pendekatan zero waste tidak hanya bertujuan mengurangi limbah, tetapi juga mendorong pemanfaatan bahan secara lebih efisien dan berkelanjutan.
Melalui LESTARI, mahasiswa UPH menghubungkan pengetahuan di kampus dengan kebutuhan masyarakat melalui inovasi pangan, pengembangan usaha, dan pemberdayaan masyarakat. Program ini diharapkan dapat membantu warga Tigaraksa mengembangkan usaha pengolahan lele secara mandiri dan berkelanjutan.
JAKARTA -
Melalui program tersebut, mahasiswa mendorong pemanfaatan ikan lele secara lebih optimal, mulai dari daging, tulang, kulit, hingga bagian lain yang sebelumnya belum dimanfaatkan. Tulang dan kepala lele diolah menjadi cookies, kulit menjadi keripik, sementara bagian organik lainnya dimanfaatkan sebagai bahan pupuk.
Program LESTARI berhasil memperoleh hibah Rp24,8 juta melalui Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) 2026 dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. UPH juga memberikan dukungan pendanaan tambahan sebesar Rp10 juta.
Ketua Tim PPK Ormawa HMPS Teknologi Pangan UPH, Joanna Faleshia, mengatakan program tersebut berangkat dari potensi budidaya lele di Tigaraksa yang memiliki sekitar 600 kolam dan dikelola oleh 25 kelompok pembudidaya. Namun, pemanfaatan lele selama ini masih didominasi produk berbahan daging.
Melalui pendekatan zero waste, tim LESTARI berupaya mengolah bagian lele yang sebelumnya dianggap sebagai sisa produksi menjadi produk bernilai ekonomi. Tulang lele, misalnya, dikembangkan menjadi bahan cookies, sedangkan kulit lele diolah menjadi keripik.
Selain mengembangkan produk, program ini juga memberikan pendampingan kepada masyarakat dalam pengelolaan usaha, legalitas, branding, pemasaran digital, hingga efisiensi produksi. Kegiatan melibatkan 40 warga dari kelompok pembudidaya dan pengolah lele, PKK, Karang Taruna, serta pelaku UMKM.
Program tersebut turut melibatkan 16 mahasiswa dari tujuh program studi, yakni Teknologi Pangan, Manajemen, Teknik Industri, Teknik Elektro, Desain Komunikasi Visual, Teknik Sipil, dan Hukum.
Tim LESTARI menargetkan pemanfaatan hingga 90 persen bagian ikan lele, sekaligus menciptakan produk olahan baru dan meningkatkan nilai ekonomi masyarakat. Menurut Joanna, sebelum program berjalan, omzet masyarakat berkisar Rp700 ribu hingga Rp900 ribu per minggu. Setelah pengembangan produk dilakukan, omzet meningkat hingga sekitar Rp3,4 juta per minggu.
Dosen pembimbing program, Prof. Dr. Ir. Adolf J. N. Parhusip, M.Si., mengatakan pendekatan zero waste tidak hanya bertujuan mengurangi limbah, tetapi juga mendorong pemanfaatan bahan secara lebih efisien dan berkelanjutan.
Melalui LESTARI, mahasiswa UPH menghubungkan pengetahuan di kampus dengan kebutuhan masyarakat melalui inovasi pangan, pengembangan usaha, dan pemberdayaan masyarakat. Program ini diharapkan dapat membantu warga Tigaraksa mengembangkan usaha pengolahan lele secara mandiri dan berkelanjutan.