AFTECH Petakan Lima Transisi yang Akan Menentukan Masa Depan Industri Fintech Indonesia

Arif Julianto/okezone, Jurnalis
Selasa 14 Juli 2026 22:04 WIB
JAKARTA - Ketua Umum AFTECH, Pandu Sjahrir memberikan buku Annual Members Survey (AMS) 2025 - 2026 kepada Utusan Khusus Presiden Bidang Perdagangan Internasional dan Kerja Sama Multilateral Mari Elka Pangestu di Jakarta.
 
Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) memetakan lima transisi struktural yang diperkirakan akan menentukan arah dan daya saing industri teknologi finansial (fintech) nasional dalam beberapa tahun ke depan. Temuan tersebut tertuang dalam Annual Members Survey (AMS) 2025–2026 yang diluncurkan AFTECH dan melibatkan 141 perusahaan anggota dari sektor sistem pembayaran, pembiayaan digital, aset digital, layanan teknologi finansial, serta platform pendukung ekosistem.
 
Ketua Umum AFTECH Pandu Sjahrir mengatakan industri fintech Indonesia kini memasuki fase pendewasaan setelah lebih dari satu dekade bertumbuh pesat. Menurutnya, daya saing industri tidak lagi hanya diukur dari kecepatan pertumbuhan perusahaan, tetapi juga dari kekuatan fundamental bisnis, kepastian implementasi regulasi, tingkat kepercayaan digital, serta dampak nyata terhadap masyarakat dan perekonomian.
 
"Berdasarkan hasil survei, industri sedang bergerak dari fase ekspansi menuju penguatan fondasi. Ke depan, perusahaan dituntut memiliki model bisnis yang sehat, tata kelola yang kuat, serta mampu membangun kepercayaan publik," ujar Pandu.
 
AFTECH mengidentifikasi lima transisi utama yang akan membentuk perkembangan industri, yakni dari pertumbuhan menuju penguatan fundamental bisnis, dari regulasi menuju kepastian implementasi, dari pembangunan infrastruktur digital menuju penguatan kepercayaan digital, dari adopsi teknologi menuju pengembangan kapabilitas sumber daya manusia, serta dari perluasan inklusi keuangan menuju penciptaan dampak yang lebih berkelanjutan.
 
Survei menunjukkan 77 persen responden menjadikan kemitraan strategis sebagai strategi pertumbuhan utama, sementara 97 persen tidak mengubah model bisnis dalam satu tahun terakhir. Sebanyak 84 persen responden juga menilai kepastian dan stabilitas regulasi sebagai dukungan pemerintah yang paling dibutuhkan, sedangkan 53 persen menempatkan penguatan identitas digital sebagai prioritas pengembangan infrastruktur.
 
Di sisi lain, tantangan industri masih terletak pada ketersediaan talenta digital dan literasi keuangan masyarakat. Sebanyak 48 persen responden mengaku kesulitan merekrut tenaga kerja di bidang data, kecerdasan buatan (AI), dan analitik, sedangkan 71 persen menilai rendahnya literasi keuangan menjadi hambatan utama dalam memperluas inklusi keuangan digital.
 
Sekretaris Jenderal AFTECH Firlie Ganinduto mengatakan hasil survei juga menunjukkan kondisi industri yang semakin sehat. Sebanyak 43 persen perusahaan anggota telah membukukan laba, 81 persen menjalin kemitraan aktif dengan pelaku ekosistem, 86 persen menilai regulasi saat ini mendukung inovasi, dan 81 persen menyebut regulasi turut mendorong pertumbuhan industri.
 
Adopsi teknologi AI juga terus meningkat. Sebanyak 83 persen responden telah menggunakan atau menguji coba AI untuk analisis data, layanan pelanggan, otomatisasi proses, deteksi penipuan, penilaian kredit, hingga manajemen risiko. Selain itu, 50 persen perusahaan memiliki layanan yang menyasar masyarakat unbanked dan underserved, 81 persen menjalankan program literasi keuangan, serta 56 persen telah memiliki atau mengembangkan program lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG).
 
Melalui AMS 2025–2026, AFTECH menegaskan komitmennya untuk terus mendorong pertumbuhan industri fintech yang inovatif, aman, inklusif, dan bertanggung jawab. Dengan fondasi yang semakin kuat, industri fintech diharapkan mampu memperluas akses keuangan, meningkatkan kepercayaan publik, serta memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap pertumbuhan ekonomi digital Indonesia.

JAKARTA - Ketua Umum AFTECH, Pandu Sjahrir memberikan buku Annual Members Survey (AMS) 2025 - 2026 kepada Utusan Khusus Presiden Bidang Perdagangan Internasional dan Kerja Sama Multilateral Mari Elka Pangestu di Jakarta.
 
Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) memetakan lima transisi struktural yang diperkirakan akan menentukan arah dan daya saing industri teknologi finansial (fintech) nasional dalam beberapa tahun ke depan. Temuan tersebut tertuang dalam Annual Members Survey (AMS) 2025–2026 yang diluncurkan AFTECH dan melibatkan 141 perusahaan anggota dari sektor sistem pembayaran, pembiayaan digital, aset digital, layanan teknologi finansial, serta platform pendukung ekosistem.
 
Ketua Umum AFTECH Pandu Sjahrir mengatakan industri fintech Indonesia kini memasuki fase pendewasaan setelah lebih dari satu dekade bertumbuh pesat. Menurutnya, daya saing industri tidak lagi hanya diukur dari kecepatan pertumbuhan perusahaan, tetapi juga dari kekuatan fundamental bisnis, kepastian implementasi regulasi, tingkat kepercayaan digital, serta dampak nyata terhadap masyarakat dan perekonomian.
 
"Berdasarkan hasil survei, industri sedang bergerak dari fase ekspansi menuju penguatan fondasi. Ke depan, perusahaan dituntut memiliki model bisnis yang sehat, tata kelola yang kuat, serta mampu membangun kepercayaan publik," ujar Pandu.
 
AFTECH mengidentifikasi lima transisi utama yang akan membentuk perkembangan industri, yakni dari pertumbuhan menuju penguatan fundamental bisnis, dari regulasi menuju kepastian implementasi, dari pembangunan infrastruktur digital menuju penguatan kepercayaan digital, dari adopsi teknologi menuju pengembangan kapabilitas sumber daya manusia, serta dari perluasan inklusi keuangan menuju penciptaan dampak yang lebih berkelanjutan.
 
Survei menunjukkan 77 persen responden menjadikan kemitraan strategis sebagai strategi pertumbuhan utama, sementara 97 persen tidak mengubah model bisnis dalam satu tahun terakhir. Sebanyak 84 persen responden juga menilai kepastian dan stabilitas regulasi sebagai dukungan pemerintah yang paling dibutuhkan, sedangkan 53 persen menempatkan penguatan identitas digital sebagai prioritas pengembangan infrastruktur.
 
Di sisi lain, tantangan industri masih terletak pada ketersediaan talenta digital dan literasi keuangan masyarakat. Sebanyak 48 persen responden mengaku kesulitan merekrut tenaga kerja di bidang data, kecerdasan buatan (AI), dan analitik, sedangkan 71 persen menilai rendahnya literasi keuangan menjadi hambatan utama dalam memperluas inklusi keuangan digital.
 
Sekretaris Jenderal AFTECH Firlie Ganinduto mengatakan hasil survei juga menunjukkan kondisi industri yang semakin sehat. Sebanyak 43 persen perusahaan anggota telah membukukan laba, 81 persen menjalin kemitraan aktif dengan pelaku ekosistem, 86 persen menilai regulasi saat ini mendukung inovasi, dan 81 persen menyebut regulasi turut mendorong pertumbuhan industri.
 
Adopsi teknologi AI juga terus meningkat. Sebanyak 83 persen responden telah menggunakan atau menguji coba AI untuk analisis data, layanan pelanggan, otomatisasi proses, deteksi penipuan, penilaian kredit, hingga manajemen risiko. Selain itu, 50 persen perusahaan memiliki layanan yang menyasar masyarakat unbanked dan underserved, 81 persen menjalankan program literasi keuangan, serta 56 persen telah memiliki atau mengembangkan program lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG).
 
Melalui AMS 2025–2026, AFTECH menegaskan komitmennya untuk terus mendorong pertumbuhan industri fintech yang inovatif, aman, inklusif, dan bertanggung jawab. Dengan fondasi yang semakin kuat, industri fintech diharapkan mampu memperluas akses keuangan, meningkatkan kepercayaan publik, serta memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap pertumbuhan ekonomi digital Indonesia.

Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Foto Lainnya
Telusuri berita Multimedia lainnya