Ketahanan Farmasi Diperkuat melalui Halalbihalal di Tengah Tantangan Global

Arif Julianto/okezone, Jurnalis
Jum'at 17 April 2026 20:59 WIB
 
JAKARTA - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin (tengah) berfoto bersama Kepala Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar (keempat kiri), Kepala Badan Pemeliharaan dan Perawatan Pertahanan Kementerian Pertahanan Supo Dwi Diantara (keempat kanan) dan Ketua Umum GP Farmasi Indonesia (Gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia) F. Tirto Kusnadi (ketiga kanan) saat acara Halal Bihalal Gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia di Jakarta, Kamis (16/4/2026).
 
Gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia (GP Farmasi Indonesia) menggelar Halalbihalal nasional sebagai ajang silaturahmi sekaligus forum komunikasi strategis antara pemerintah, regulator, dan pelaku industri farmasi. Kegiatan yang berlangsung di Angsana Ballroom, DoubleTree by Hilton Jakarta Kemayoran ini mengusung tema “Merajut Kebersamaan untuk Usaha Farmasi yang Produktif, Efisien, Berdaya Saing, dan Berkelanjutan”.
 
Acara ini menjadi momentum penting untuk memperkuat sinergi dalam menjaga ketahanan sektor farmasi nasional, terutama di tengah dinamika global yang semakin kompleks. Gejolak geopolitik, khususnya konflik di Timur Tengah, berdampak pada rantai pasok global, kenaikan harga energi, serta terganggunya distribusi logistik internasional yang turut memengaruhi biaya produksi industri, termasuk farmasi yang masih bergantung pada bahan baku impor.
 
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan komitmen pemerintah untuk memastikan ketersediaan obat tetap terjaga dan harganya terjangkau bagi masyarakat. Pemerintah juga mendorong industri farmasi dalam negeri untuk terus berinvestasi, berinovasi, serta mencari alternatif bahan dan komponen guna mengurangi ketergantungan impor. Selain itu, pemerintah membuka ruang dialog yang luas dengan pelaku industri untuk mendukung keberlangsungan usaha farmasi nasional.
 
Kepala BPOM Taruna Ikrar menambahkan bahwa stabilitas industri farmasi tidak hanya ditentukan oleh kebijakan regulasi, tetapi juga oleh koordinasi yang erat antara regulator dan pelaku usaha. Penguatan pengawasan rantai pasok dinilai penting untuk menjaga kualitas, keamanan, serta ketersediaan obat di masyarakat.
 
Sementara itu, Ketua Umum GP Farmasi Indonesia F. Tirto Kusnadi menyampaikan bahwa stok obat nasional masih dalam kondisi aman untuk beberapa bulan ke depan. Ia menekankan pentingnya efisiensi industri serta penguatan rantai pasok domestik agar industri farmasi nasional tetap tangguh dan kompetitif di tengah tekanan global.
 
Melalui kegiatan ini, GP Farmasi Indonesia menegaskan perannya sebagai jembatan strategis antara pemerintah dan pelaku usaha, sekaligus mendorong kolaborasi yang berkelanjutan. Ke depan, sinergi yang kuat diharapkan mampu menjaga stabilitas harga dan ketersediaan obat, memperkuat ketahanan sistem kesehatan nasional, serta meningkatkan daya saing industri farmasi Indonesia di tingkat global.

 
JAKARTA - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin (tengah) berfoto bersama Kepala Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar (keempat kiri), Kepala Badan Pemeliharaan dan Perawatan Pertahanan Kementerian Pertahanan Supo Dwi Diantara (keempat kanan) dan Ketua Umum GP Farmasi Indonesia (Gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia) F. Tirto Kusnadi (ketiga kanan) saat acara Halal Bihalal Gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia di Jakarta, Kamis (16/4/2026).
 
Gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia (GP Farmasi Indonesia) menggelar Halalbihalal nasional sebagai ajang silaturahmi sekaligus forum komunikasi strategis antara pemerintah, regulator, dan pelaku industri farmasi. Kegiatan yang berlangsung di Angsana Ballroom, DoubleTree by Hilton Jakarta Kemayoran ini mengusung tema “Merajut Kebersamaan untuk Usaha Farmasi yang Produktif, Efisien, Berdaya Saing, dan Berkelanjutan”.
 
Acara ini menjadi momentum penting untuk memperkuat sinergi dalam menjaga ketahanan sektor farmasi nasional, terutama di tengah dinamika global yang semakin kompleks. Gejolak geopolitik, khususnya konflik di Timur Tengah, berdampak pada rantai pasok global, kenaikan harga energi, serta terganggunya distribusi logistik internasional yang turut memengaruhi biaya produksi industri, termasuk farmasi yang masih bergantung pada bahan baku impor.
 
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan komitmen pemerintah untuk memastikan ketersediaan obat tetap terjaga dan harganya terjangkau bagi masyarakat. Pemerintah juga mendorong industri farmasi dalam negeri untuk terus berinvestasi, berinovasi, serta mencari alternatif bahan dan komponen guna mengurangi ketergantungan impor. Selain itu, pemerintah membuka ruang dialog yang luas dengan pelaku industri untuk mendukung keberlangsungan usaha farmasi nasional.
 
Kepala BPOM Taruna Ikrar menambahkan bahwa stabilitas industri farmasi tidak hanya ditentukan oleh kebijakan regulasi, tetapi juga oleh koordinasi yang erat antara regulator dan pelaku usaha. Penguatan pengawasan rantai pasok dinilai penting untuk menjaga kualitas, keamanan, serta ketersediaan obat di masyarakat.
 
Sementara itu, Ketua Umum GP Farmasi Indonesia F. Tirto Kusnadi menyampaikan bahwa stok obat nasional masih dalam kondisi aman untuk beberapa bulan ke depan. Ia menekankan pentingnya efisiensi industri serta penguatan rantai pasok domestik agar industri farmasi nasional tetap tangguh dan kompetitif di tengah tekanan global.
 
Melalui kegiatan ini, GP Farmasi Indonesia menegaskan perannya sebagai jembatan strategis antara pemerintah dan pelaku usaha, sekaligus mendorong kolaborasi yang berkelanjutan. Ke depan, sinergi yang kuat diharapkan mampu menjaga stabilitas harga dan ketersediaan obat, memperkuat ketahanan sistem kesehatan nasional, serta meningkatkan daya saing industri farmasi Indonesia di tingkat global.

Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Telusuri berita Multimedia lainnya