Karies Gigi Capai 93%, Ahli Ingatkan Pentingnya Cermati Komposisi Susu Formula

Arif Julianto/okezone, Jurnalis
Selasa 14 April 2026 20:24 WIB

JAKARTA - Tingginya angka karies gigi pada anak di Indonesia menjadi perhatian serius. Data Kementerian Kesehatan mencatat sebanyak 93 persen anak Indonesia mengalami karies gigi, yang salah satunya dipengaruhi pola konsumsi tidak sehat, termasuk asupan tinggi gula.

 
Kondisi ini mendorong orang tua untuk lebih cermat dalam memilih susu formula. Pemilihan tidak cukup hanya berdasarkan klaim manfaat di kemasan seperti “dukung tumbuh kembang” atau “tinggi kalsium”, melainkan harus memperhatikan komposisi, bahan tambahan, serta proses produksi produk.
 
Dokter spesialis anak, dr. Reza Fahlevi, Sp.A(K), menekankan pentingnya memahami komposisi secara menyeluruh. Menurutnya, bahan yang tercantum di urutan awal pada label menunjukkan kandungan terbanyak dalam produk. “Orang tua perlu melihat komposisi utuh, karena dari situlah kualitas nutrisi yang dikonsumsi anak dapat dinilai,” ujarnya.
 
Selain bahan utama seperti susu, orang tua juga perlu mencermati bahan tambahan seperti sukrosa, maltodekstrin, sirup jagung, dan vanilin. Maltodekstrin merupakan karbohidrat olahan yang cepat berubah menjadi gula, sementara sirup jagung dan sukrosa berkontribusi pada tingginya asupan gula harian. Vanilin sendiri digunakan sebagai perisa untuk meningkatkan cita rasa.
 
Paparan rasa manis sejak dini dinilai dapat memengaruhi preferensi rasa anak. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga menekankan pembatasan konsumsi gula pada anak karena berkaitan dengan risiko karies gigi dan penyakit jangka panjang.
 
Selain komposisi, proses produksi juga menjadi faktor penting. Pemanasan berulang dalam produksi susu formula dapat memengaruhi kualitas nutrisi, termasuk perubahan struktur protein dan penurunan kadar asam amino penting seperti lisin.
 
Meski demikian, Air Susu Ibu (ASI) tetap menjadi sumber gizi terbaik bagi bayi karena kandungan nutrisinya yang ideal serta adanya antibodi alami. Namun, dalam kondisi tertentu ketika ASI tidak dapat diberikan secara optimal, susu formula menjadi alternatif yang perlu dipilih dengan bijak.
 
Reza mengingatkan, keputusan memilih susu formula merupakan investasi kesehatan jangka panjang. “Orang tua harus lebih teliti membaca label dan kritis dalam memilih, karena yang dikonsumsi anak setiap hari akan berdampak pada kesehatannya di masa depan,” katanya.

JAKARTA - Tingginya angka karies gigi pada anak di Indonesia menjadi perhatian serius. Data Kementerian Kesehatan mencatat sebanyak 93 persen anak Indonesia mengalami karies gigi, yang salah satunya dipengaruhi pola konsumsi tidak sehat, termasuk asupan tinggi gula.

 
Kondisi ini mendorong orang tua untuk lebih cermat dalam memilih susu formula. Pemilihan tidak cukup hanya berdasarkan klaim manfaat di kemasan seperti “dukung tumbuh kembang” atau “tinggi kalsium”, melainkan harus memperhatikan komposisi, bahan tambahan, serta proses produksi produk.
 
Dokter spesialis anak, dr. Reza Fahlevi, Sp.A(K), menekankan pentingnya memahami komposisi secara menyeluruh. Menurutnya, bahan yang tercantum di urutan awal pada label menunjukkan kandungan terbanyak dalam produk. “Orang tua perlu melihat komposisi utuh, karena dari situlah kualitas nutrisi yang dikonsumsi anak dapat dinilai,” ujarnya.
 
Selain bahan utama seperti susu, orang tua juga perlu mencermati bahan tambahan seperti sukrosa, maltodekstrin, sirup jagung, dan vanilin. Maltodekstrin merupakan karbohidrat olahan yang cepat berubah menjadi gula, sementara sirup jagung dan sukrosa berkontribusi pada tingginya asupan gula harian. Vanilin sendiri digunakan sebagai perisa untuk meningkatkan cita rasa.
 
Paparan rasa manis sejak dini dinilai dapat memengaruhi preferensi rasa anak. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga menekankan pembatasan konsumsi gula pada anak karena berkaitan dengan risiko karies gigi dan penyakit jangka panjang.
 
Selain komposisi, proses produksi juga menjadi faktor penting. Pemanasan berulang dalam produksi susu formula dapat memengaruhi kualitas nutrisi, termasuk perubahan struktur protein dan penurunan kadar asam amino penting seperti lisin.
 
Meski demikian, Air Susu Ibu (ASI) tetap menjadi sumber gizi terbaik bagi bayi karena kandungan nutrisinya yang ideal serta adanya antibodi alami. Namun, dalam kondisi tertentu ketika ASI tidak dapat diberikan secara optimal, susu formula menjadi alternatif yang perlu dipilih dengan bijak.
 
Reza mengingatkan, keputusan memilih susu formula merupakan investasi kesehatan jangka panjang. “Orang tua harus lebih teliti membaca label dan kritis dalam memilih, karena yang dikonsumsi anak setiap hari akan berdampak pada kesehatannya di masa depan,” katanya.

Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Telusuri berita Multimedia lainnya