Menjelajahi House of Tugu Kota Tua Jakarta, World?s Greatest Places 2026 Versi TIME Magazine

Armydian Kurniawan, Jurnalis
Rabu 18 Maret 2026 21:15 WIB
DERETAN artefak kuno dan kisah lintas zaman mengantarkan House of Tugu Jakarta ke panggung global. Properti yang berlokasi di Jalan Kali Besar Barat, kawasan Kota Tua Jakarta ini resmi masuk daftar World’s Greatest Places 2026 versi TIME Magazine, sekaligus menjadi satu-satunya wakil Indonesia dalam kurasi bergengsi tersebut. Pengakuan ini diberikan atas kekayaan sejarah, kedalaman budaya, serta inovasi pengalaman yang ditawarkan kepada pengunjung.
 
Perjalanan menuju pengakuan global ini bermula sejak 1970-an. Pemilik House of Tugu Jakarta, Anhar Setjadibrata, mulai mengumpulkan benda-benda antik saat bekerja sebagai perwakilan medis yang sering bepergian. Ia menemukan banyak artefak bersejarah yang terabaikan dan dianggap tidak bernilai. Namun, baginya, benda-benda tersebut merupakan bagian penting dari identitas bangsa yang harus dilestarikan.
 
Bersama istrinya, Wedya Julianti, koleksi itu kemudian menjadi fondasi konsep Tugu Hotels sebagai hotel butik berbasis museum. Menurut Regional Sales Marketing Manager Tugu Hotels & Restaurants, Rosiany T. Chandra, setiap ruang tidak hanya berfungsi sebagai tempat menginap, tetapi juga sebagai ruang hidup yang menyimpan cerita sejarah. ”Terutama terkait budaya Peranakan, kolonial Belanda, dan perjalanan Indonesia,” kata Rosiany. Berdiri pada November 2024, House of Tugu Jakarta kini menjelma sebagai galeri hidup dengan narasi lintas zaman.
 
Jejak Batavia menjadi bagian penting dari identitasnya. Kisah bermula pada 1866 saat Oei Tjie Sien, buyut pemilik bangunan, terpikat sebuah rumah besar di kawasan Kali Besar. Ia terkesan oleh pemandangan sungai dan taman kelapa, serta pengalaman sederhana saat ditawari kelapa muda oleh penjaga rumah. Ia bahkan membawa pulang dua bibit kelapa ke Semarang.
 
Seiring waktu, Oei Tjie Sien sukses menjadi saudagar gula dan berhasil memiliki rumah tersebut. Karena sifatnya yang tertutup, bangunan ini dikenal sebagai Forbidden House. Kini, kisah itu dihidupkan kembali melalui desain arsitektur dan interior. ”Detail arsitektur dan interior mengadopsi simbol-simbol memori, seperti deretan pohon kelapa di koridor yang merepresentasikan kenangan masa lalu,” kata Rosiany. Sisa pohon kelapa asli juga disebar di area bangunan sebagai bentuk penghormatan.
 
Ruang-Ruang Tematik, Bangunan seluas hampir satu hektare ini menghadirkan ruang-ruang tematik yang sarat sejarah. The Kali Macan Room menampilkan perahu kayu dengan patung macan besar peninggalan tahun 1648 yang digunakan dalam ritual pemberkatan kanal antara Kali Ciliwung dan Kali Macan.
 
Borobudur Room menghadirkan patung Dhyani Buddha yang dibuat pada 1957 dan dipindahkan ke Kota Tua pada 2000. Sementara itu, The Raden Saleh Room menampilkan karya pelukis legendaris Indonesia sekaligus menyimpan peninggalan Pangeran Diponegoro, seperti tombak dan koper dari akar pohon yang digunakan saat pengasingannya di Benteng Rotterdam (1833–1855).
 
Keterkaitan tokoh-tokoh ini memperkaya narasi sejarah. Raden Saleh merupakan paman Raden Ajeng Kasinem, istri Oei Tiong Ham—anak Oei Tjie Sien sekaligus saudagar gula besar Asia. Pernikahan mereka pada 1857 menjadi salah satu cikal bakal budaya Peranakan di Indonesia. Pada masa Oei Tiong Ham, Forbidden House difungsikan sebagai gudang gula.
 
Ruang bertema nasional turut melengkapi pengalaman. Soekarno Room menampilkan memorabilia Presiden pertama Indonesia, sementara Kapitan Hall mengenang Nie Hoe Kong, pemimpin komunitas Tionghoa Batavia. Ruangan ini menyimpan artefak, termasuk suvenir berbentuk gong kayu bertuliskan tahun 1740, yang merujuk pada tragedi Geger Pacinan.
 
Peranakan Museum menjadi pusat narasi budaya dengan koleksi seni, porselen, dan tekstil yang mencerminkan perpaduan budaya Tionghoa, Melayu, dan Indonesia. Museum ini direncanakan akan dibuka untuk umum dalam waktu dekat.
 
Di lantai lain, ballroom didesain menyerupai Gedung Sociëteit de Harmonie yang dirobohkan pada 1985. Ruangan ini menampilkan berbagai elemen asli, seperti lampu kristal, furnitur, hingga kursi milik Gubernur Jenderal Sir Thomas Stamford Raffles. ”Menariknya, pemilik berhasil mengumpulkan kembali 64 dari 83 anak kunci Gedung Harmoni yang sebelumnya dibuang ke sungai oleh Raffles,” ujar Representative House of Tugu Jakarta, Shafa Haura.
 
Kuliner dan Inovasi Pengalaman di House of Tugu Jakarta juga diperkuat melalui inovasi kuliner. ”Jajaghu Restaurant menyajikan hidangan Asia dengan sentuhan modern dalam suasana artistik. Sementara itu, Kafe Babah Koffie menawarkan kopi dari Perkebunan Kawisari di Blitar yang telah berdiri sejak awal 1900-an,” jelas Shafa.
 
Di kafe ini terdapat naga merah raksasa sepanjang 52 meter yang dibuat pada 1961. Naga tersebut awalnya dirancang untuk parade perayaan 100 tahun perusahaan Oei Tiong Ham dan Cap Go Meh, namun batal akibat situasi politik 1963. Setelah lama tersimpan, naga ini direstorasi dan kini menjadi instalasi ikonik.
 
Selain itu, De Tiger Bar yang akan segera dibuka menghadirkan konsep bistro modern di tepi kolam, memadukan nuansa kontemporer dengan atmosfer historis Kota Tua.
 
Hotel Eksklusif, 25 Suite Dari sisi akomodasi, House of Tugu Jakarta memiliki 25 suite dengan desain unik yang merepresentasikan budaya Peranakan dan Indonesia. Oei Tiong Ham Suite menawarkan kemegahan klasik, sementara Charlie Chaplin Suite mengenang kunjungan sang komedian legendaris ke Indonesia pada 1932 melalui foto-foto yang terpajang di kamar.
 
Pilihan lain seperti Makelaar Kopi Suite merayakan sejarah kopi Nusantara. Kamar lain seperti Nyonya Besar Suite, The Concubine Suite, dan Riverside Suite menawarkan pengalaman berbeda, termasuk pemandangan langsung ke Kali Besar. Harga kamar dimulai dari Rp2,4 juta per malam.
 
Tingkat okupansi hotel ini stabil, tidak pernah kurang dari 50 persen. Mayoritas tamu berasal dari Eropa, Australia, dan China, disusul wisatawan dari Indonesia, India, dan negara lainnya. 
 
Pengalaman menginap dilengkapi berbagai program, seperti tur artefak selama tiga hingga empat jam, pijat tubuh, hingga makan siang Peranakan. Fasilitas lain mencakup ruang pernikahan, acara korporasi, dan kegiatan sosial.
 
Untuk relaksasi, tersedia Solek Spa dengan perawatan berbasis tradisi Indonesia, lengkap dengan jacuzzi dan banya Rusia. Program yoga serta kelas jamu tradisional juga menjadi bagian dari pengalaman holistik.
 
Pada akhirnya, pengakuan global ini mencerminkan perubahan tren pariwisata dunia. Wisatawan kini mencari pengalaman autentik yang sarat makna. House of Tugu Jakarta menjawab kebutuhan tersebut dengan menghadirkan harmoni antara masa lalu dan kehidupan modern, menjadikannya destinasi yang tidak hanya dikunjungi, tetapi juga dirasakan secara mendalam. 

DERETAN artefak kuno dan kisah lintas zaman mengantarkan House of Tugu Jakarta ke panggung global. Properti yang berlokasi di Jalan Kali Besar Barat, kawasan Kota Tua Jakarta ini resmi masuk daftar World’s Greatest Places 2026 versi TIME Magazine, sekaligus menjadi satu-satunya wakil Indonesia dalam kurasi bergengsi tersebut. Pengakuan ini diberikan atas kekayaan sejarah, kedalaman budaya, serta inovasi pengalaman yang ditawarkan kepada pengunjung.
 
Perjalanan menuju pengakuan global ini bermula sejak 1970-an. Pemilik House of Tugu Jakarta, Anhar Setjadibrata, mulai mengumpulkan benda-benda antik saat bekerja sebagai perwakilan medis yang sering bepergian. Ia menemukan banyak artefak bersejarah yang terabaikan dan dianggap tidak bernilai. Namun, baginya, benda-benda tersebut merupakan bagian penting dari identitas bangsa yang harus dilestarikan.
 
Bersama istrinya, Wedya Julianti, koleksi itu kemudian menjadi fondasi konsep Tugu Hotels sebagai hotel butik berbasis museum. Menurut Regional Sales Marketing Manager Tugu Hotels & Restaurants, Rosiany T. Chandra, setiap ruang tidak hanya berfungsi sebagai tempat menginap, tetapi juga sebagai ruang hidup yang menyimpan cerita sejarah. ”Terutama terkait budaya Peranakan, kolonial Belanda, dan perjalanan Indonesia,” kata Rosiany. Berdiri pada November 2024, House of Tugu Jakarta kini menjelma sebagai galeri hidup dengan narasi lintas zaman.
 
Jejak Batavia menjadi bagian penting dari identitasnya. Kisah bermula pada 1866 saat Oei Tjie Sien, buyut pemilik bangunan, terpikat sebuah rumah besar di kawasan Kali Besar. Ia terkesan oleh pemandangan sungai dan taman kelapa, serta pengalaman sederhana saat ditawari kelapa muda oleh penjaga rumah. Ia bahkan membawa pulang dua bibit kelapa ke Semarang.
 
Seiring waktu, Oei Tjie Sien sukses menjadi saudagar gula dan berhasil memiliki rumah tersebut. Karena sifatnya yang tertutup, bangunan ini dikenal sebagai Forbidden House. Kini, kisah itu dihidupkan kembali melalui desain arsitektur dan interior. ”Detail arsitektur dan interior mengadopsi simbol-simbol memori, seperti deretan pohon kelapa di koridor yang merepresentasikan kenangan masa lalu,” kata Rosiany. Sisa pohon kelapa asli juga disebar di area bangunan sebagai bentuk penghormatan.
 
Ruang-Ruang Tematik, Bangunan seluas hampir satu hektare ini menghadirkan ruang-ruang tematik yang sarat sejarah. The Kali Macan Room menampilkan perahu kayu dengan patung macan besar peninggalan tahun 1648 yang digunakan dalam ritual pemberkatan kanal antara Kali Ciliwung dan Kali Macan.
 
Borobudur Room menghadirkan patung Dhyani Buddha yang dibuat pada 1957 dan dipindahkan ke Kota Tua pada 2000. Sementara itu, The Raden Saleh Room menampilkan karya pelukis legendaris Indonesia sekaligus menyimpan peninggalan Pangeran Diponegoro, seperti tombak dan koper dari akar pohon yang digunakan saat pengasingannya di Benteng Rotterdam (1833–1855).
 
Keterkaitan tokoh-tokoh ini memperkaya narasi sejarah. Raden Saleh merupakan paman Raden Ajeng Kasinem, istri Oei Tiong Ham—anak Oei Tjie Sien sekaligus saudagar gula besar Asia. Pernikahan mereka pada 1857 menjadi salah satu cikal bakal budaya Peranakan di Indonesia. Pada masa Oei Tiong Ham, Forbidden House difungsikan sebagai gudang gula.
 
Ruang bertema nasional turut melengkapi pengalaman. Soekarno Room menampilkan memorabilia Presiden pertama Indonesia, sementara Kapitan Hall mengenang Nie Hoe Kong, pemimpin komunitas Tionghoa Batavia. Ruangan ini menyimpan artefak, termasuk suvenir berbentuk gong kayu bertuliskan tahun 1740, yang merujuk pada tragedi Geger Pacinan.
 
Peranakan Museum menjadi pusat narasi budaya dengan koleksi seni, porselen, dan tekstil yang mencerminkan perpaduan budaya Tionghoa, Melayu, dan Indonesia. Museum ini direncanakan akan dibuka untuk umum dalam waktu dekat.
 
Di lantai lain, ballroom didesain menyerupai Gedung Sociëteit de Harmonie yang dirobohkan pada 1985. Ruangan ini menampilkan berbagai elemen asli, seperti lampu kristal, furnitur, hingga kursi milik Gubernur Jenderal Sir Thomas Stamford Raffles. ”Menariknya, pemilik berhasil mengumpulkan kembali 64 dari 83 anak kunci Gedung Harmoni yang sebelumnya dibuang ke sungai oleh Raffles,” ujar Representative House of Tugu Jakarta, Shafa Haura.
 
Kuliner dan Inovasi Pengalaman di House of Tugu Jakarta juga diperkuat melalui inovasi kuliner. ”Jajaghu Restaurant menyajikan hidangan Asia dengan sentuhan modern dalam suasana artistik. Sementara itu, Kafe Babah Koffie menawarkan kopi dari Perkebunan Kawisari di Blitar yang telah berdiri sejak awal 1900-an,” jelas Shafa.
 
Di kafe ini terdapat naga merah raksasa sepanjang 52 meter yang dibuat pada 1961. Naga tersebut awalnya dirancang untuk parade perayaan 100 tahun perusahaan Oei Tiong Ham dan Cap Go Meh, namun batal akibat situasi politik 1963. Setelah lama tersimpan, naga ini direstorasi dan kini menjadi instalasi ikonik.
 
Selain itu, De Tiger Bar yang akan segera dibuka menghadirkan konsep bistro modern di tepi kolam, memadukan nuansa kontemporer dengan atmosfer historis Kota Tua.
 
Hotel Eksklusif, 25 Suite Dari sisi akomodasi, House of Tugu Jakarta memiliki 25 suite dengan desain unik yang merepresentasikan budaya Peranakan dan Indonesia. Oei Tiong Ham Suite menawarkan kemegahan klasik, sementara Charlie Chaplin Suite mengenang kunjungan sang komedian legendaris ke Indonesia pada 1932 melalui foto-foto yang terpajang di kamar.
 
Pilihan lain seperti Makelaar Kopi Suite merayakan sejarah kopi Nusantara. Kamar lain seperti Nyonya Besar Suite, The Concubine Suite, dan Riverside Suite menawarkan pengalaman berbeda, termasuk pemandangan langsung ke Kali Besar. Harga kamar dimulai dari Rp2,4 juta per malam.
 
Tingkat okupansi hotel ini stabil, tidak pernah kurang dari 50 persen. Mayoritas tamu berasal dari Eropa, Australia, dan China, disusul wisatawan dari Indonesia, India, dan negara lainnya. 
 
Pengalaman menginap dilengkapi berbagai program, seperti tur artefak selama tiga hingga empat jam, pijat tubuh, hingga makan siang Peranakan. Fasilitas lain mencakup ruang pernikahan, acara korporasi, dan kegiatan sosial.
 
Untuk relaksasi, tersedia Solek Spa dengan perawatan berbasis tradisi Indonesia, lengkap dengan jacuzzi dan banya Rusia. Program yoga serta kelas jamu tradisional juga menjadi bagian dari pengalaman holistik.
 
Pada akhirnya, pengakuan global ini mencerminkan perubahan tren pariwisata dunia. Wisatawan kini mencari pengalaman autentik yang sarat makna. House of Tugu Jakarta menjawab kebutuhan tersebut dengan menghadirkan harmoni antara masa lalu dan kehidupan modern, menjadikannya destinasi yang tidak hanya dikunjungi, tetapi juga dirasakan secara mendalam. 

Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Telusuri berita Multimedia lainnya